Sebagian besar dari kita
pasti pernah mengalami masalah di luar rumah yang membuat kita sangat emosi,
entah masalah kantor, dengan teman, pacar atau masalah di jalan raya. Kekesalan
dan emosi tersebut masih terbawa hingga kita tiba di rumah. Lebih parahnya lagi
ketika tiba di rumah kita diberitahukan atau dimintai tolong untuk melakukan
sesuatu oleh keluarga kita sehingga
merasa sangat jengkel, merasa orang di rumah tidak mau mengerti akan
keadaan dan situasi hati kita yang sedang kacau, sehingga permintaan dari
keluarga kita tadi memicu kemarahan “lagi”. Dalam hati mungkin merancau “kenapa
orang rumah tidak mau mengerti dengan keadaan saya yang baru datang dari luar
rumah, mereka tidak tau tadi saya mendapat masalah”. Katika tidak ada pihak
yang mau mengerti atau mengalah maka
peperangan di rumahpun tak terhelakkan lagi. Hehe..
Ketidaktahuan keluarga kita
di rumah akan masalah yang kita alami tadi bukanlah sebuah kesalahan, namun
menurut saya itu hal yang sangat wajar, karena mereka adalah manusia, bukan
Tuhan yang maha tau atau dukun, atau peramal yang sok tau. hehe . .
Coba kita melihat dari sudut
pandang berbeda, ketika tadi kita mendapat masalah di luar rumah, apakah kita berani
memastikan bahwa keluarga kita yang tinggal di rumah tidak mendapat masalah
atau musibah. Bagaimana jadinya ketika kita tiba di rumah dengan keadaan marah
dan ternyata keluarga kita di rumah juga dalam keadaan yang sama yakni
mendapatkan masalah, entah masalah mengurus anak yang sedang rewel, anak sakit,
orang tua sakit, dll. Bayangkan bagaimana emosi dan situasi kejiwaan keluarga
kita di rumah yang sedang mengalami masalah yang ingin meminta bantuan kepada
kita tetapi malah diberikan perkataan yang pedas. Sungguh ironis dan terlalu.
Jadi bagaimana kita tau dan
menempatkan diri?. Jawaban dari saya pribadi sangat mudah, yakni rasa saling
menghargai dan mengerti, cobalah untuk tidak mencampur adukkan masalah kantor
atau pekerjaan dengan masalah di rumah, karena masalah seorang ibu rumah tangga
bisa saja lebih berat daripada masalah seorang kepala bidang di sebuah
instansi. Di paragraf terakhir ini kenapa banyak ada kata “masalah” ya? Mungkin
ketika saya menulis cacatan ini juga lagi dalam masalah. Hehe.. karena masalah
adalah bagian dari kehidupan, masalah adalah jalan bagi kita menggapai
kebahagiaan, masalah adalah sesuatu yang tidak akan pernah habis, karena di
balik masalah ada hal indah yang akan terjadi, maka biarkanlah masalah
mendatangi kita dan buatlah masalah itu berlalu dengan meninggalkan jejak
kebahagiaan.
Terima kasih. :D










