Jumat, 18 Desember 2015

Emosi dan Masalah



Sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami masalah di luar rumah yang membuat kita sangat emosi, entah masalah kantor, dengan teman, pacar atau masalah di jalan raya. Kekesalan dan emosi tersebut masih terbawa hingga kita tiba di rumah. Lebih parahnya lagi ketika tiba di rumah kita diberitahukan atau dimintai tolong untuk melakukan sesuatu oleh keluarga kita sehingga  merasa sangat jengkel, merasa orang di rumah tidak mau mengerti akan keadaan dan situasi hati kita yang sedang kacau, sehingga permintaan dari keluarga kita tadi memicu kemarahan “lagi”. Dalam hati mungkin merancau “kenapa orang rumah tidak mau mengerti dengan keadaan saya yang baru datang dari luar rumah, mereka tidak tau tadi saya mendapat masalah”. Katika tidak ada pihak yang  mau mengerti atau mengalah maka peperangan di rumahpun tak terhelakkan lagi. Hehe..
Ketidaktahuan keluarga kita di rumah akan masalah yang kita alami tadi bukanlah sebuah kesalahan, namun menurut saya itu hal yang sangat wajar, karena mereka adalah manusia, bukan Tuhan yang maha tau atau dukun, atau peramal yang sok tau. hehe . .
Coba kita melihat dari sudut pandang berbeda, ketika tadi kita mendapat masalah di luar rumah, apakah kita berani memastikan bahwa keluarga kita yang tinggal di rumah tidak mendapat masalah atau musibah. Bagaimana jadinya ketika kita tiba di rumah dengan keadaan marah dan ternyata keluarga kita di rumah juga dalam keadaan yang sama yakni mendapatkan masalah, entah masalah mengurus anak yang sedang rewel, anak sakit, orang tua sakit, dll. Bayangkan bagaimana emosi dan situasi kejiwaan keluarga kita di rumah yang sedang mengalami masalah yang ingin meminta bantuan kepada kita tetapi malah diberikan perkataan yang pedas. Sungguh ironis dan terlalu.
Jadi bagaimana kita tau dan menempatkan diri?. Jawaban dari saya pribadi sangat mudah, yakni rasa saling menghargai dan mengerti, cobalah untuk tidak mencampur adukkan masalah kantor atau pekerjaan dengan masalah di rumah, karena masalah seorang ibu rumah tangga bisa saja lebih berat daripada masalah seorang kepala bidang di sebuah instansi. Di paragraf terakhir ini kenapa banyak ada kata “masalah” ya? Mungkin ketika saya menulis cacatan ini juga lagi dalam masalah. Hehe.. karena masalah adalah bagian dari kehidupan, masalah adalah jalan bagi kita menggapai kebahagiaan, masalah adalah sesuatu yang tidak akan pernah habis, karena di balik masalah ada hal indah yang akan terjadi, maka biarkanlah masalah mendatangi kita dan buatlah masalah itu berlalu dengan meninggalkan jejak kebahagiaan.
Terima kasih. :D

Tidak ada komentar: